Sejarah Desa Tanjungjaya

Pada jaman dahulu di desa Citeureup terdapat salah satu kampung yang bernama Kampung Kalicaah, yang jarak tempuhya diperkirakan ± 12 KM ke kantor Desa Citeureup Kecamatan Cigeulis Kewadanaan Cibaliung kabupaten DT II Pandeglang, dan satu-satunya tempat masyarakat mencari kebutuhan bahan pokok  yang terdekat yaitu pasar Citeurep, dan hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki dan jalan laut, jika masyarakat berjalan kaki harus meghabiskan waktu 2-3 jam di perjalanan dengan menyusuri jalan hutan, sungai kali jedang tanpa adanya jalur transfortasi (jalan setapak). Sehingga bila mana kali jedang tersebut sedang pasang dari jalur laut karena tidak adanya jembatan maka masyarakat harus menyebrangi sungai dengan berenang.

Karena jarak tempuh yang luar biasa, sehingga pelayanan Pemerintah kepada Masyarakat sekitar kurang dan memprihatinkan. Selain dari Kp. Kalicaah terdapat pula beberapa kampung di antaranya Kp. Cebong, Kp. Cipanon, Kp. Sake. Yang mana jarak dari kampung ke kampung sangat jauh. Kala itu sekitar tahun 1970 Kp. Kalicaah dan Kp. Cipanon terserang wabah  penyakit malaria yang begitu dahsyat. Karena di daerah Kp. Kalicaah letak Geografis tanahnya dataran rendah. Bahkan sebagian daerahnya adalah rawa-rawa menuju pantai Tanjung Lesung yang belum digarap oleh masyarakat  (Tanah Negara Bebas).

Menurut cerita orang tua terdahulu, pernah terjadi peristiwa diluar dari nalar manusia, yaitu adanya seorang gadis Kalicaah yang namanya sampai saat ini masih dirahasiakan yang hendak ikut berlayar dengan perahu kayu dari Tanjung Kapal menuju Labuah, pada saat gadis tersesebut hendak menaiki perahu, tiba-tiba gadis tersebut yang menggunakan pakaian kain kebaya berwarna merah serta dengan memakai payung ternyata gadis tersebut berjalan diatas permukaan laut pantai Tanjung Kapal sampai menghilang di kejauhan pandangan mata.

Menurut orang tua terdahulu ternyata si gadis tersebut dibawa oleh Mahluk Halus (Siluman) yang bernama Nyi Siti Munigar yang mempunyai kedekatan dengan Nyi Roro Kidul. Nyi Siti Munigar adalah putri dari Raden Budug yang menguasai di daerah Ranca Lembang, ranca Rengit sampai ke daerah Legon Dadap.

Seiring dengan bergulirnya waktu dijaman pemerintahan Jaro Aceng, atas prakarsa Pemerintah waktu itu pemerintah mendatangkan Trasnmigrasi lokal yaitu dari daerah Majalenka, untuk menggarap lahan pertanian di daerah kalicaah dan Cipanon. Karena rombongan Transmigrasi yang berasal dari Majalengka tidak bertahan lama karena adanya serangan peyakit malaria yang sangat dahsyat kala itu sekitar tahun 1970. Dengan adanya hal tersebut maka para Transmigrasi itu banyak yang menjadi korban akibat malaria, da nada pula yang bertahan sampai anaknya saati ini menetap di Kp. Cipanon.

Selang beberapa tahun kemudian Pemerintah Desa Citeureup di jabat oleh H. Masrik diperkirakan tahun 1982 akhir. Dibawah ke pemimpinan H. Masrik tercetuslah ide untuk mengadakan pemekaran Desa dari satu Desa menjadi dua Desa dengan dibantu oleh beberapa Tokoh yang ada di Kp. Kalicaah, Kp. Cipanon dan Kp. Cebong. Maka terbentuklah Desa Tanjungjaya hasil dari pemekaran Desa Citeureup pada tahun 1983, dan pada waktu itu di jabat oleh Pjs. Kepala Desa dari Desa Induk yang bernama M. SALAMUN.

Nama Tanjungjaya muncul untuk dijadikan nama Desa karena disebelah utara Ranca Lembang dan Ranca Reungit ada daratan yang menjolok ke lautan itu disebut Tanjung Lisung. Jika kita lihat dari pantauan udara dalam Monografi Desa Tanjungjaya seperti kepala Lesung. Maka dari Itu diberi nama TANJUNGJAYA oleh Penggagas pemekaran Desa Tanjungjaya. Yang mana harapannya adalah agar adanya perubahan dan Pelayanan kepada Masayarakat tidak Sulit.

 

Kepala Desa yang pernah menjabat di Desa Tanjungjaya

Kades Tanjungjaya Terdahulu.jpg